Sumber gambar: Pixabay
Sungguh, aku ini bukan Wonder Woman apalagi Debora yang gagah berani memimpin pasukan melawan Sisera dan bala Kanaan. Aku jauh daripada itu. Aku ini perempuan biasa. Pernah sakit gigi dan sering pusing kepala. Tetapi, biar begitu, mudah-mudahan jangan sampai skizofrenia. Itu menakutkan. Aku sudah menonton Shutter Island dan langsung merasa ngeri akannya.
Pelukis Vincent van Gogh, matematikawan John Nash, penyair Edgar Allan Poe, dan vokalis Pink Floyd, Syd Barret hanyalah segelintir nama yang harus bergelut dengan gangguan psikosis itu sepanjang hayatnya. Jika itu adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang legenda, aku dengan senang hati bersedia menukarnya dengan semangkuk batagor Bu Jujum.
Maksudku, mungkin menarik memiliki dunia fantasi yang tampak begitu nyata bagi diri kita seorang, namun, potensi destruktif adalah bayang-bayang kelam yang setia menggentayangi. Kamu pasti sudah tahu cerita tentang penggambar Potrait of Dr. Gachet yang mengiris daun telinganya sendiri itu. Ngeri, bukan? Ya, dan sebaiknya aku cerita yang lain saja kalau begitu.
Baca cerita sebelumnya: Taman Kota
Jadi, begini.
Akhir-akhir ini, kesibukanku di tempat magang semakin menjadi-jadi. Aku tidak hanya melakukan pekerjaan seputar pengambilan data guna penyusunan laporan akademik saja, melainkan juga membantu membereskan urusan administrasi kantor. Dari mulai inventaris biaya pembangunan sampai pencatatan gaji karyawan.
Aku jadi lebih sering menatap layar monitor dalam waktu yang lama. Imbasnya, penglihatanku jadi lebih cepat lelah dan pening. Sebenarnya bukan cuma aku saja, sih. Erika, Lisa, dan Fidel pun mengeluh senada.
Dua bulan sudah kami berempat magang bareng. Total jam kerja kami juga telah memenuhi ketentuan magang dari kampus. Dua atau tiga pekan lagi sepertinya kami sudah bisa rampung.
Kecurigaanku ternyata benar. Aku menderita miopia. Diantar Lisa, aku datang ke optik terdekat pada suatu sore sepulang magang. Hari itu juga aku mulai memakai kacamata, meskipun tidak setiap waktu.
Kabar inilah yang membuat Arya terkejut ketika kami bertemu pada suatu petang.
“Hah, masa?” tanyanya heran. Aku hanya mengangguk pelan.
“Berapa-berapa?” Aku mengerti maksud pertanyaannya, tapi entah kenapa terdengar lucu saja di telingaku. Seolah-olah, dia sedang menanyakan skor pertandingan tim kesayangannya semalam.
“Dua-satu!” seruku seakan menegaskan skor kemenangan suatu tim.
“Ah, itu mah Barcelona lawan Dynamo Kyiv, kemarin,” katanya lalu ketawa.
“Yang kanan, satu. Yang kiri, tiga per empat,” ujarku mengklarifikasi.
“Coba pakai, aku mau lihat.” Tentu saja, aku menolak. Aku bisa menebak reaksi menyebalkan seperti apa yang akan ia munculkan kalau aku turuti maunya. Namun, aku tak kuasa mengelak dari cecaran pintanya.
“Oke, oke, sebentar. Awas, kalau ketawa,” ancamku. Aku menekuri tas jinjing hingga menemukan kacamata D-frame, lantas mengenakannya.
“MasyaAllah! Bu Jujum!” kejutnya seraya bangkit dari kursinya dan bergerak hendak mencium tangan, yang sontak memantikku menggetoknya dengan gulungan naskah laporan yang harus revisi kesekian kalinya itu. Berani-beraninya dia menyamakan aku dengan ibu penjual batagor terenak sekampus itu. Bukannya aku sok cantik tapi kau harus tahu: semanis apa pun pujian, menyamakan satu perempuan dengan perempuan lainnya itu berpotensi mengundang anarki. Camkan itu.
Aku menghentikan serangan karena dia terus menuntut pengampunan.
“Tapi seriusan, mirip kok,” ujarnya seolah tidak kapok akan konsekuensi dari ucapannya itu. Aku tak lagi membalas kalimatnya selain berlagak seram dengan bibir yang punah senyum. Lalu sunyilah interaksi kami seketika.
Setelahnya, di antara kami benar-benar nyenyat. Aku juga heran. Baru kali ini gertakanku berhasil membuatnya bisu dan kikuk. Beruntung dia bisa mengalihkan fokusnya ke layar proyektor raksasa di sisi barat sana yang sedang memutar film Guardians of the Galaxy Vol. 2.
Tetapi kami tidak sedang berada di bioskop atau bahkan tanah lapang, ya. Aku tidak tahu. Pokoknya, tempat ini cukup nyaman untuk jadi spot berkumpul. Awal memasuki tempat ini, kamu akan mendapati banyak poster film terpampang di sekitar meja kasir, teralis dinding, bahkan interior kamar mandi. Tempat duduknya didominasi formasi satu meja plus dua pasang bangku yang berhadap-hadapan dan bercat putih.
Mudah-mudahan kamu pernah datang ke sini, jadi aku tidak perlu repot mendeskripsikannya lebih spesifik lagi.
Kata Arya, setiap hari dari sore hingga tengah malam, tempat ini pasti selalu memutar film. Kecuali, jika ada pertandingan sepak bola tertentu maka akan berubah jadi tempat nobar yang ramai sekali. Tempat ini adalah sarang Madridista, katanya. Oh ya, itu tadi kata dia waktu di jalan kami berangkat ke sini. Sekarang sih, dia masih diam terpaku dengan hanya menyisakan punggung untuk aku pandang. Huh!
Aku perhatikan lucu juga dia kalau sedang kikuk begini. Beberapa kali aku dapati dia curi-curi tengok. Perlahan kecanggungannya berubah seiring dia tenggelam menonton. Aku pun jadi ikut larut dalam alur film juga kemudian.
Kebekuan antara kami pelan-pelan reda seiring tawa yang lepas ketika menyimak cerita film. Karena tawa yang insidental itu, sesekali kami jadi saling berpandang dan melempar senyum kecil. Sekali lagi, itu senyum spontan, bukan karena aku sengaja mau beramah-tamah kepadanya. Ingat.
Begitu saja terus sampai film selesai dan kami pulang. Bahkan belum juga ada sepatah kata pun yang membuka ruang percakapan hingga kami berhenti di pinggir jalan menghampiri pedagang wedang ronde.
Begitu turun dari motor, Arya baru berkata lagi padaku.
“Biar kamu nggak ngopi melulu,” ucapnya, dan terlukislah bulan sabit di bibirku.
Kami lantas duduk belunjur di atas tikar berwarna dominan merah itu. Tak lama, pesanan pun siap sedia menemani percakapan.
“Enak,” ucapku setelah suapan pertama.
“Aku belum nanya,” jawabnya sehingga menunda sendokan pertamanya meluncur ke mulutnya.
“Kan visioner?” balasku.
Dia ketawa lalu bertanya, “Kamu katanya dulu hampir mau masuk sini ya?” Barulah aku menyadari bahwa kami sedang berada di area sekitar sebuah kampus perguruan tinggi swasta.
“Iya. Tinggal milih program studi malah.” Aku sengaja mengambil jeda sebelum menambahkan, “Kalau nggak Psikologi, ya Bahasa Inggris.”
Ia hanya senyum dan bergeleng kecil.
“Kamu bisa baca pikiran, ya, sekarang?”
“Kan kamu yang ngajarin?”
“Loh, aku kan ngajarinnya huruf Hijaiah kemarin.” Tentu saja ia mengarangnya. Aku sudah terbiasa dengan gaya bercandanya itu.
“Efek samping mungkin?” lemparku.
Dia memandang heran lalu terbahak. Beruntung sendoknya belum meluncur ke mulut.
“Eh, tapi, beneran lho, dulu aku juga belajar itu sama saudara, waktu kecil,” kataku.
“Oh ya? Kok nggak dilanjutin?”
“Nggak lolos di huruf Ha’ sama Kho’.”
“Wah, gawat. Perlu kursus lagi itu, artinya.”
“Ayuk!” seruku.
Dia memamerkan sunggingan bibir sebelum meneguk kembali sedikit minumnya. Lalu, ia bertanya mengenai kegiatan magangku.
“Lumayan. Hampir rampung, tinggal finalisasi laporan,” jawabku.
Astaga, minuman ini enak betul. Paduan serpihan roti tawar, kolang-kaling, dan kombinasi susu hangat dengan rempah yang sedikit pedas memberikan sensasi bancuh dalam mulut. Hanya kacangnya saja mungkin yang sedikit mengganggu, bagiku.
“Eh, Lisa tahu kamu, loh.” Sebetulnya, namanya Elizabeth. Harusnya aku memanggilnya Liza tapi huruf Z terasa berat bagi lidah Indonesiaku ini.
“Hah, kok bisa?” tanyanya heran sebelum mengantarkan sendok mendarat ke mulutnya.
“Dia tanya ke Hamam, katanya.”
“Oh, Hamam? Iya, sering futsal bareng, sih, memang.”
“Sejurusan?”
“Anggap saja begitu.” Jawaban yang pirau. Padahal itu hanyalah pertanyaan retoris sebab aku sudah tahu faktanya. Aku tidak tahu kenapa ia gemar menjawab dengan gaya seperti itu. Mungkin, ia memang senang saja membuat orang lain bingung. Atau, ia ingin berlagak sok misterius saja. Bah, sudah tidak mempan buatku!
Ia lalu mendongakkan sedikit gelasnya; menahan sendok di antara apitan jari telunjuk dan jari manis dan bergegas menandaskan minum. Punyaku? Masih setengah gelas. Ini minuman enak, aku harus hemat-hemat.
“Kamu inget Mas-mas Proyek yang aku ceritain kapan hari itu?” kataku dan Arya hanya mengangguk.
Kemudian berceritalah aku panjang lebar. Tentang Erika yang dikirimi pesan pribadi berisi ajakan ngopi dengan dalih menawarkan bantuan konsultasi program, Lisa yang enek karena selalu ditanya sudah-makan-belum hampir setiap saat, Fidel yang paling sering disuruh-suruh karena satu-satunya cowok di antara kami berempat, sampai aku yang mulai risih disapa "Nona Cantik". Ya, aku tahu itu bukan panggilan yang buruk, tetapi kamu pasti paham tendensinya ke mana.
“Kamu boleh curiga kalau dibilang cantik. Apalagi sama orang baru,” balas Arya lantas menggulung tulang kering dan memeluk lutut.
Lalu katanya, komentar merupakan cerminan fokus seseorang. Ada banyak kata untuk menyusun pujian atau kalimat semacamnya, tetapi apa yang menonjol dalam benak adalah yang akan meluncur deras terperikan.
Biar begitu, tapi tetap saja suasana kesal masih tersisa dalam diri. Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi hingga laporanku benar-benar selesai.
“Kalau bukan karena magang, aku juga ogah, ih,” gerutuku. “Pernah ya, kalau kita lagi di lapangan itu suka curi-curi foto coba? Mana di-upload di Story WhatsApp dan kita orang pada bisa lihat karena kontak kita disimpan dia itu tadi. Mana nggak disembunyikan pula pas bikin itu status.”
Menjadi-jadilah tawanya seketika lalu berkata, “Paparazi zaman sekarang mah ekstrem, yak. Nyamarnya jadi pekerja proyek!”
“Ih, kamu mah!”
“Albert Einstein diajak nikah Marylin Monroe aja juga mikir, tuh,” celetuknya.
“Hah?” Aku tidak paham maksud perkataannya, tapi aku yakin itu kalimat baik. Atau setidaknya, menuju pemahaman positif.
“Kalau kamu gimana? Kamu nggak magang emangnya?”
Lalu dengan entengnya ia menjawab, “Kapan-kapan aja, lah. Gantian sama yang lain.”
“Dih? Nanti lulusnya jadi lama, loh, kalau ditunda-tunda.”
Lalu, mulailah ia berbusa-busa. Bercelotehlah ia tentang Paul Virilio dan menjabarkan teori dromologi tokoh pemikir berkebangsaan Prancis itu dengan analogi yang sesederhana mungkin, yang intinya merupakan fenomena kiwari tentang paradigma mendewakan kecepatan dalam berbagai sendi kehidupan.
Katanya, manusia pascamodern itu memiliki kegandrungan khusus akan ketergesa-gesaan. Suatu perkembangan seakan-akan hanya memerlukan aspek akseleratif―siapa cepat, dia dapat―semata guna bergerak progresif. Padahal, kontemplasi dan refleksi ialah faktor yang seharusnya lebih perlu diutamakan.
Opini yang bagus, batinku. Mudah-mudahan saja, dia tidak sedang mengglorifikasi kemalasannya. Sayang sekali jika sosok sepertinya dikutuki tubuh pelasuh. Aku tentu berharap yang terbaik bagi masa depannya. Toh, kalau nanti ia bernasib mujur, aku juga ikut berbangga―sekalipun bukan aku yang membersamainya kelak.
“Ah, itu mah cuma alasan kamu aja biar ada pembenaran,” sergahku. Aku ingin tahu seberapa getol ia menggenggam alibiinya itu.
Anehnya, kini, ia hanya tercenung kaku. Beku seperti manusia purba dalam kotak es. Tatapannya kosong. “Aku punya banyak mimpi, Dit. Dan aku bingung, harus meminta bantuan berapa orang lagi untuk menguburnya,” katanya kemudian.
Aku terkejut mendengar jawaban itu. Sepertinya, aku tidak sengaja telah menyulut nyala sentimental dalam dirinya. Dia lalu menceritakan banyak mimpi-mimpinya.
Katanya, ia ingin suatu ketika ke London dan menyanyikan chant “Forever Blowing Bubbles” bersama ribuan orang lainnya di Stratford. Ia berharap suatu ketika bisa menyusuri rumah-rumah lokal penduduk di Birmingham, bertemu orang-orang gipsi di Dublin, berziarah ke Konya, menelusuri tilas Juliet di Verona, sowan ke rumah Filippo Inzaghi, dan masih banyak lainnya. Ambisi-ambisi itu diungkapkannya secara gamblang seiring dengan pesimisme yang memancar berselang kemudian.
“Aku mengerti, setiap kata-kata barangkali jugalah doa, tetapi, sepantasnya, setiap pendoa mestinya tahu diri,” katanya.
Ia kembali terdiam. Makin jelaslah kata-katanya itu sebagai racauan. Semakin banyak mimpi yang ia tuliskan, semakin tandas ia menarik garis coretan. Semakin berbusa, semakin lantang igaunya. Meskipun, dalam hati kecilku berpendar mungil amin untuk setiap bualannya itu. Kalau-kalau saja doaku sangkil dikabul Tuhan. Tuhan yang mana? Entahlah. Yang mana saja, asal baik.
Aku mengelus bahu kirinya, berharap dengan itu muramnya bisa sedikit reda. Mungkin, kesamaan latar belakang keluarga, menjadikan kami memiliki semacam frekuensi empati yang serupa. Begitulah, sejarah membentuk manusia sebagaimana manusia membentuk sejarah.
Ya, aku tahu, “laki-laki” dan “rentan” adalah dua frasa yang haram bergandengan. Di dunia ini, laki-laki mesti senantiasa gagah perkasa. Padahal, kerentanan itulah asal muasal tercipta pelukan.
Arya lalu tiba-tiba bilang, bahwa kami harus meluangkan waktu untuk menonton Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Itu film bagus, katanya. Judul film tersebut diambil dari salah satu larik puisi “Eloisa to Abelard” karya penyair Inggris, Alexander Pope. Aku hanya mengiyakan saja. Mungkin itu ucapan reaksioner agar ia bisa mengalihkan silu hatinya.
Ia sebetulnya orang yang seru diajak mengobrol. Kamu bisa saja mengawali obrolan dengan topik tertentu, tapi dialah yang kemudian akan membanting kemudi dan menentukan rute obrolannya. Namun, jika kamu orang baru, sepertinya perlu beberapa waktu intens agar bisa menikmati obrolan semacam itu. Sebab, dalam forum, ia jarang menampilkan sisi itu.
Dia lihai mengalihkan tema pembicaraan, terutama jika kamu lalai dalam fokusmu. Kamu bisa saja melempar topik obrolan tentang artis tampan idolamu, tapi kamu akan telat sadar ketika tahu-tahu dia sudah membicarakan tentang kisah Ibrahim dan istrinya. Semacam ada jembatan tunggal dalam obrolan, yang akan memaksa kamu untuk mengikuti letup bibirnya bercerita.
Aku suka caranya mengolah trivia-trivia unik dalam bungkus humor yang segar. Kamu bisa saja nyeletuk soal permainan kubus rubik, tapi jangan kaget kalau tahu-tahu dia menyeretmu ke kisah Ed Snowden yang membongkar kebusukan NSA dan Barack Obama tentang penyadapan data pribadi warga sipil Amerika Serikat.
Atau, jangan terkejut kalau kamu awalnya hanya mengeluh tentang susahnya mengajarkan matematika ke anak TK, tapi malah kemudian terperosok dalam obrolan serius tentang teori Realisme Naif oleh Clifford Geertz, teokrasi Iran, revolusi Turki Muda sampai diskusi hal ihwal eskatologis.
Dia juga sering menggunakan analogi yang unik―lebih tepatnya: aneh―dalam menjelaskan sesuatu. Misalnya, menggunakan komparasi antara mandi di ‘kamar mandi’ dan di ‘kali’ untuk menggambarkan hipokrisi kaum abangan.
Namun, kadang juga dia kesulitan menemukan analogi yang pas untuk menerangkan suatu pemahaman. Kalau sudah begitu, dia akan bilang, “Mentok, ah! Pokoknya gitulah, ya. Aku doain kamu ngerti. Haha.”
Menyenangkan sebetulnya karena tema percakapan jadi lebih variatif. Tapi, jika kamu tidak tahan, kadang jadi muak sendiri dan buru-buru kamu ingin memotong obrolan dan mengganti topik. Memang, jika tidak terbiasa, kamu akan merasa dia seperti sedang menggurui kamu. Tapi, seiring intensitas mengobrol, kamu akan tahu bahwa itu hanyalah cara dia mengeksplorasi ide-ide acak agar menjadi percakapan yang tidak monoton.
Toh, obrolan semacam itu hanya akan terjadi dalam situasi empat mata saja. Di dalam grup―seperti yang kubilang tadi―ia cenderung banyak diam. Tapi kamu harus waspada. Matanya berkeliaran ke mana-mana. Lalu, ketika dia sudah duduk di sampingmu dan mulai melempar kata, ia akan mengagetkanmu dengan serangkaian pertanyaan―buah observasi dalam diamnya tadi.
Pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa banyak teman-teman forum yang pakai baju hitam hari ini; kenapa Derik dan Amin membawa merk rokok yang sama, padahal biasanya itu bukan rokok kesukaannya; atau kenapa Mas Rudi tega memangkas rambut panjangnya.
Setelah melontarkan soal-soal remeh itu, ia lalu menyebut satu per satu hipotesisnya.
Yang pertama, katanya, orang biasanya kalau pakai kaos hitam atau polosan, bisa jadi karena stok baju di lemari menipis. Entah karena lagi dijemur atau masih di tempat laundry. Maka, orang tersebut akan berhemat dengan mengenakan pakaian yang tidak mudah kotor; warna hitam jelas masuk daftar. Aneh, kupikir ia akan berasumsi bahwa orang-orang habis pulang dari acara takziah.
Soal Derik dan Amin, ia bahkan “mengajukan” tiga hipotesis. Pertama, bisa jadi karena dikasih oleh orang yang sama. Kedua, bisa jadi karena sama murah atau mahalnya, menandakan kondisi keuangan yang serupa. Ketiga, mereka sama-sama sedang menjajal rokok merk anyar.
Sementara itu, hipotesis Arya tentang Mas Rudi yang potong rambut, cuma satu: pasti karena perempuan, entah disuruh atau dipaksa. Yang terakhir ini, ia mengatakannya dengan mantap. Ketika aku tanya kenapa ia mantap sekali dengan tebakannya, jawabnya: "karena aku juga begitu".
Mendengar itu, kami langsung ketawa karena kemudian sadar ia sedang menyinggungku. Akulah yang menyuruhnya memotong rambutnya yang mulai menyentuh pundak itu. Ia menurut saja karena katanya, ia mewakili aku untuk potong rambut. Dengan kata lain, ia lebih suka aku berambut panjang daripada pendek. Makanya ia membuat “pengorbanan” tersebut seakan-akan peristiwa dramatis cum heroik.
Beberapa tebakannya benar, tapi beberapa yang lain tidak. Ia kerap menantangku untuk mengkonfirmasi sederet hipotesisnya itu kepada orang yang bersangkutan. Tentu, dengan cara yang informal.
Namun, ia memberi pengecualian bahwa akan selalu ada ruang ‘mungkin’ bagi setiap kebetulan―mungkin sekadar untuk menyelamatkan hipotesisnya agar tetap tampak keren. Oh ya, Derik, Amin, dan Mas Rudi itu rekan seforum kami, kalau kamu belum tahu. Itulah kenapa Arya sedikit hafal tabiat mereka.
Aku mengangkat lagi gelasku, bermaksud membasahi kerongkongan kembali. Ternyata, isinya sudah tandas. Aku heran karena sejak menyimak ia cerita, aku tidak merasa menyentuh gelasku sama sekali. Siapa lagi yang patut aku curigai selain Arya? Dia ternyata menukar gelasku dengan miliknya yang sudah kosong. Tahu aku mulai tersadar akan hal itu, ia dengan santainya mengembalikan gelas kelompang itu dan bilang, “Sudah aku wakilin, Dit. Takut kamu kecapekan.”
Astaga, Tuhan. Dikira aku lagi menggelonggong air se-Samudra Pasifik apa ya? Minta ditabok betul ini anak. Kesal, aku pun menyerangnya bertubi-tubi. Telapak tanganku bersarang ke manapun sisi badannya yang lengang. Ia pun menawarkan kompensasi memesan lagi dan langsung bertanya kepada si penjual.
Namun, pedagang wedang ronde itu bilang, “Wah, pas banget, Mbak, nembe mawon telas.” Baru saja habis, katanya. Sungguh, ini benar-benar menyebalkan.
Aku mencubitnya dengan capitan paling sempit yang aku bisa. Ia memohon ampun mengiba diri, tapi baru aku lepaskan ketika aku puas menyiksanya. Tilas cubitan itu begitu awet ceruknya; membekas sampai saat ia mengantarkanku pulang.
Aku jadi merasa bersalah padanya. Kugapai tangan kanannya dan kusingkap lengan kemejanya. Kugosok lembut ceruk itu dan kutiup-tiup, niatnya semoga bisa jadi permintaan maafku. Eh, tapi dia malah nyeletuk, “Diminum, Mbak, keburu dingin.” Gila ini orang. Enggak nyambung. Asli.
Main-main rupanya dia. Aku sudah siap bermanuver menggigit lengannya, tapi dia lebih sigap mengantisipasi; menariknya lekas-lekas.
“Hii, rabies,” cetusnya.
Aku merajuk; ia nyengir saja. Ia lalu mengingatkanku soal barang yang hendak dipinjamnya. Aku lantas masuk kamar dan mencari barang itu. Arya berdiri menunggu di beranda, dekat pintu depan. Sebetulnya, ada ruang tamu, tapi ia enggan masuk. Malas menyentuh keramik; dingin, katanya.
Sekejap kemudian, aku kembali dengan kamus Inggris-Spanyol di tangan kananku.
“Awas, (jangan sampai) lecet. Warisan Mama,” ujarku setelah menyerahkan kamus saku itu.
Ia memanggut kecil dan berterima kasih.
“Besok sarapan, yuk!” ajakku spontan.
“Aduh, maaf, enggak bisa,” bantahnya lugas.
“Kenapa? Kamu ada kelas?” balasku, padahal besok hari libur nasional.
“Mulai besok, aku fotosintesis, Dit.”
Aku terkikik-kikik mendengarnya. Namun, aku memilih tidak menyahutnya karena jika aku lakukan, celotehnya bakal kembali panjang.
“Boleh deh, aku yang traktir. Pampasan wedang ronde yang hilang,” sambung Arya setelah aku tak lagi tergelak.
Aku lalu mengantarnya menghampiri motor, bersiap untuk pamit. Motornya ada di depan pagar. Ia menggenjotnya sekali dan langsung hidup.
“Boleh tanya?” katanya setelah memakai helm. Aku membolehkan, lalu ia melanjutkan “Matahari, bulan, dan bintang itu lahirnya kapan, ya, Dit?” Jenis pertanyaan yang aneh, tapi jadi lazim kalau ia yang bertanya. Dia tahu aku suka hal-hal berbau astronomi.
“Diciptakan Tuhan pada hari keempat, setahuku.”
“Oh, ya?” lalu ia mengangguk-angguk sendiri. “Kalau kamu?”
“Manusia diciptakan pada hari keenam, kalau enggak salah.”
“Masa, sih? Kok aku beda, ya?” balasnya heran.
“Hah, beda gimana?”
“Aku (diciptakan) pada malam pertama!” pekiknya. Spontan, aku ketawa sekaligus refleks membungkam mulutnya. Sudah malam masih saja berisik dia. Eh, aku juga, sih.
“Kamu, lusa nanti ikut?” tanyanya lagi.
“Ke mana?”
“Malam inaugurasi.”
“Oh, malam Minggu, ya, itu?” tanyaku dan ia hanya mengayun kepala.
“Ikut. Kamu?”
Giliran ia yang mengangguk. “Mudah-mudahan enggak hujan,” katanya.
“Kalau ujan, enggak ikut dong?”
“Si Ujan emang diundang?”
“Ih, kamu mah!”
“Hehehe.”
"Oh ya, lusa, jangan pakai kaos belang hitam-putih, kalau bisa."
"Kenapa? Takut dikira narapidana yang kabur?"
"Bukan. Kasian zebra, krisis identitas entar."
Perutku lagi-lagi dibuat kaku karena ketawa. "Udah ah, capek ketawa terus." Setelah menormalkan kondisi perut, aku lantas melontar tanya, “Langsung pulang?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Oke, hati-hati.”
“Iya.”
Ia senyum kecil seraya memutar kendaraan dan berpamitan.
“Daaah!” kataku melambai kecil padanya.
Malam berdesing. Meniupkan lengangnya pada deru knalpot yang kian pudar. Rekah bibirku berangsur susut seiring ia hilang dari pandang. Aku mematung, menyadari bahwa hari-hari menjelang kedaluwarsa telah dekat. Lekas-lekas aku pun menuju kamar mandi, cuci muka dan cuci kaki sebentar lalu masuk kamar.
Yohana, adikku, sedang pulang ke rumah paman di Salatiga. Dan Efraim, kakakku yang biasa aku panggil “Raim”―tanpa sapaan “mas” sebagaimana budaya di Indonesia pada umumnya―hanya mampir sebentar siang tadi, meminta diantarkan ke stasiun untuk bertolak ke Surabaya.
Aku rebah di kasur seorang diri. Di luar sana, Canis Major dengan Sirius yang benderang di angkasa malam pasti lebih indah dipandang ketimbang temaram lampu kamarku; yang bukannya memberi secercah cahaya, malah justru meniupkan gemuruh risau tak terperi.
Kamu tentu tahu bahwa denganmu, sungguh suatu hal yang menyenangkan. Tetapi aku terkungkung dalam belenggu ini. Impianku untuk dapat melanggengkan janji suci di altar katedral kian lindap seiring tawaku meledak bersamamu. Kidung-kidung cinta Raja Salomo kentara kian utopis dan kelabu. Semua itu terlampau jauh dari jangkauan, aku tahu. Dan sampai kapan aku mengadu nestapa macam begini?
Seperti katamu kala menyitir Rendra: yang utama adalah keselamatan; cinta cuma nomor dua. Dan aku mau selamat. Maaf, aku hanya ingin egois kali ini. Terserah bila ingin membenci. Aku mendoakan kebahagiaanmu.
Betapa malu diriku. Aku tercekat, pria kecil yang berdarah-darah di bukit Golgota itu diam-diam memperhatikanku dari sisi atas tembok sana. Hening dan getir menyaksikan kemalanganku.
Aku mengambil ponsel dari atas kenap. Mengetik pesan guna membatalkan agenda sarapan bareng besok. Begitu terkirim, data seluler aku matikan. Setelah membersihkan semua aplikasi yang masih berjalan, ponsel aku nonaktifkan dan kusimpan dalam laci.
Aku menangkup jemari, memejamkan mata; merapal pelan dalam risikan bisu:
“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”
Amin.
Jiwaku roboh. Batinku gemetar. Bibirku gagu. Jawaban Tuhan begitu cepat, melekat dalam pejamku. Didih leleh membelah pipi.
Penulis: Lindu Ariansyah