Oleh: Teguh Iman Perdana
Merasa bahwa di balik segala sesuatu yang dapat dialami terdapat sesuatu yang tidak dapat dipahami pikiran kita dan yang keindahan dan keagungannya sampai pada kita hanya secara tidak langsung dan sebagai suatu pantulan yang lemah— inilah kereligiusan”
Agama dari suatu masa adalah hiburan sastra masa berikutnya) — Ralph Waldo Emerson
Sumber gambar: MediaOnline.id
Menjadi mayoritas di negeri majemuk yang indah ini tentu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Seseorang tentunya akan bahagia ketika apa yang dipercayainya menjadi kepercayaan orang banyak juga. Seperti ketika kita selesai ujian lalu mecocokan jawaban dengan teman kita, dan hasilnya sama dengan jawaban kita, sederhananya begitu. Meski sudah tahu jawabannya salah, tapi tetap happy karena punya banyak teman. Atau bagi pecinta drakor (drama Korea), akan jingkrak-jingkrak ketika bertemu dengan sesama pecinta drakor lainnya. Bagi fans Liverpool pun sama, meski bertahun-tahun puasa gelar namun tetap bahagia karena merasa memiliki banyak teman yang senasib. Namun kadang kita malah jadi jumawa, merasa paling besar dan benar, lupa bahwa hanya Tuhan yang berhak menyandang sifat itu. Kita ini hanya wayang, penggerak utama atau sutradaranya ya dalang, ketika Sang Dalang menyuruhmu berhenti memainkan peran, maka kamu harus berhenti dan berada di sampingnya. Meski kita tidak bisa juga menyamakan Tuhan dengan dalang atau sutradara, sebab ketika Tuhan sudah bisa disamakan maka ia bukan Tuhan lagi. Ah mungkin mereka (semoga kita tidak termasuk di dalamnya) lupa, sehingga jadi sangat arogan sekarang. Sampai-sampai apapun yang tidak sepaham, langsung dianggap kafir. Semudah itu memberi label pada setiap orang karena beda pandangan dan cara meyakini sesuatu yang mereka percayai. Bung-bung sekalian yang hebat itu mungkin lupa juga, bahwa tanah air tercinta ini dulunya dimerdekakan bukan oleh satu golongan saja. Ada darah golongan dan kepercayaan lain yang tumpah mengisi ember kemerdekaan itu, semoga bung legowo menerima fakta sejarah itu sekarang. Saya jadi ingat sebuah hadits shahih, “Siapa yang menyeru pada seseorang dengan sebutan kafir atau ia mengatakan: Wahai musuh Alloh, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali padanya (shahih, Hadits Riwayat Muslim no. 61). Itu hadits lho, sahih! Bagaimana Akhy dan ukhty sekalian? Sudah ada hadits-nya lho. Saya yakin betul kalian sudah tahu dan hafal di luar kepala ketimbang saya. Tapi ironinya, label kafir saat ini begitu mudah terlontar, cap penista agama pun begitu mudah disematkan pada siapapun yang berbeda pandangan. Yasalam. Walhasil aksi persekusi semakin lumrah. Negara yang katanya berperikemanusiaan yang adil dan beradab malah lebih memilih menggunakan otot ketimbang berbicara dari hati ke hati dalam menyelesaikan setiap konflik. Lebih suka memakai cacian dan makian ketimbang nasihat-nasihat bijak yang ngayomi. Apakah asas permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan sudah tidak relevan lagi? Tapi ya sudah lah ya Bung, persetan dengan sejarah, pokoknya sekarang yang beda harus kita tumpas. Toh golongan kalianlah yang paling banyak berperan dan berkorban untuk Bangsa dan Negara Indonesia. Golongan kita lah yang paling Pancasilais. Yang penting setelah menumpas ibadah lagi, setelah mencaci maki sembahyang lagi, untuk menghapus dosa. Saya jadi ingat potongan puisi Joko Pinurbo, judulnya Sajak Balsem Buat Gus Mus.saban hari giat sembahyang habis sembahyang terus mencaci habis mencaci sembahyang lagi habis sembahyang ngajak kelahi
Bukankah sembahyang adalah penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa, sehingga kita menjadi merasa paling tidak ada apa-apanya, merasa kecil, merasa tidak lebih hebat dari siapapun. Bukankah sembahyang seharusnya bisa melapangkan hati kita dan mampu menerima setiap perbedaan, karena sejatinya Tuhanlah yang menciptakan perbedaan itu sendiri. Bukankah sudah sangat jelas tercantum dalam Surat Al-Hujarat ayat 13 mengapa Tuhan menciptakan makhluknya berbeda-beda, tidak lain supaya saling mengenal, saling melengkapi, menjadi harmoni yang indah. Lha wong kita makan saja kalau lauknya hanya tempe protes, ingin tambah sayur, sambal, ayam, atau paling tidak kuah sarden lah, iya tho? Tapi susah ya Bung, menerima perbedaan, apalagi kita sadar bahwa kita adalah mayoritas. Mungkin kalau bisa kunci gitar minor akan kita tiadakan, diubah semua jadi mayor. *ngelus dada. Memang tidak mudah menerima perbedaan, harus bisa legowo dan berlapang hati,