Perempuan dan Ganggang Pintu
Seorang perempuan itu, aku biasa memanggilnya wanita
Ia yang memegang ganggang pintu
Yang dari besi yang dingin itu
Yang kusennya terbuat dari kayu yang sudah dan masih lapuk
Yang terbayang dalam benaknya warna pelangi
Dan satu warna putih yang menggenapkan hati
Yang tidak mengkhiati atau dalam proses mempercayai
Yang tentu saja langkah kakinya dalam keheningan
Dan setiap inci darinya adalah senyap dengan kehangatan
Yang tidak pernah takut pada matahari
Hanya mesti dalam menunduk tanah
Tidak berjarak dengan hujan dan merangkul rerumputan
Setiap pada langkah kecil ia berharap segala alam mempercaiyainya untuk bicara
Lalu memberinya pengharapan
Untuk persamaan seperti yang dijanjikan sejarah
Ganggang pintu itu, ia menaruh sedikit asa
Membenamkannya pada secercah angin
Dan lalu menempatkannya di genggaman tangan
Surga dan Indonesia Kau bilang dunia kejam padamu Surga tak memberimu asa Tapi kau bilang Indonesia nomor satu Aku bertanya pada anak muda yang jengah Menatap laut dan angin Dan ia mulai berkisah Beribu tahun yang lalu tentang negeri di bawah awan Dengan angin yang mempercainya, dengan jutaan bintang yang memahaminya Seperti halnya laut, mereka bebas Tidak seinci dari laut menyangkalnya terlebih mengkhianatinya Negeri yang mempercayai saya untuk bangun ketika matahari terbit Dan negeri yang mendamaikan seluruh hati saya ketika malam datang Detik yang kita anggap itu berharga tak ubahnya daun yang jatuh diatas tanah gersang ketika aku tak mengharapkan pagimu negeriku Tapi kau bilang, surga tak memberimu asa Lalu dari siapa tanah ini? Tentu saja dari Tuhan, dan aku mengabdi pada-Nya Bukan untuk surga tanyaku? Dan saat itu aku sadar Kita tidak dalam pemikiran yang searah Ita Aprilia. Mahasiswi Pendidikan Teknik Busana - S1. Pegiat laju dari Bantul ke Sleman setiap harinya demi belajar dan bertemu teman di kampus biru. Menyukai karya milik legend Sapardi Djoko Darmono dan Andrea Hirata. Bisa diajak ngobrol tentang karya sastra lewat akun facebook bernama Ithak.